Senin, 19 November 2012

Sistem Pendidikan Bagi Anak Tunadaksa di SLB-D YPAC

Anak Tunadaksa (cacat tubuh) termasuk salah satu jenis anak berkebutuhan khusus yang memiliki kelainan atau kecacatan pada fisiknya, yaitu pada sistem otot, tulang dan persendian akibat dari adanya penyakit, kecelakaan, bawaan sejak lahir, dan atau kerusakan di otak.
Kelainan atau kecacatan yang disandang oleh seseorang memiliki dampak langsung (primer) dan tidak langsung (sekunder), baik terhadap diri anak yang memiliki kecacatan itu sendiri maupun terhadap keluarga dan masyarakat.
Dampak langsung atau primer dari kecacatan tunadaksa adalah adanya gangguan mobilitas atau ambulasi, gangguan dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari (Aktivity of Daily Living/ADL), gangguan dalam komunikasi, gangguan fungsi mental, dan gangguan sensoris. Sedangkan dampak tidak langsung atau dampak sekunder adalah reaksi penyandang kelainan tersebut (Franklin C.Schortz,1980). Artinya bagaimana anak menghadapi masalah yang ditimbulkan oleh kecacatan yang disandang dalam kehidupannya. Semua dampak kecacatan tersebut akhirnya akan menimbulkan permasalahan. Karena itu, masalah tersebut perlu segera memperoleh penanganan sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak.

Jumat, 16 November 2012

8 permasalahan autisme di indonesia

Menurut Dr Melly ada 8 permasalahan autisme di indonesia yaitu:

1. Geografis Indonesia yang terlalu luas
Indonesia terdiri dari 17.000 pulau dan hanya sekitar 800 pulau yang berpenghuni. Hal inilah yang menimbulkan kesulitan dalam menjangkau anak-anak autis di daerah-daerah. Hingga kini diperkirakan anak autis di Indonesia bagian timur belum tertangani dengan baik. Selain itu anak-anak autis yang berada di pulau lain hanya sedikit yang bisa membawa anaknya ke Jakarta, sedangkan penanganan autisme itu membutuhkan waktu jangka panjang.

"Karena besarnya luas Indoensia jadinya sulit untuk melakukan survei atau pendataan mengenai penyandang autis di Indonesia," tambahnya.

2. Sulitnya penanganan autis di berbagai daerah
Banyaknya etnis yang ada di Indonesia juga terkadang menyebabkan adanya persepsi yang berbeda-beda mengenai penanganan autisme. Pada daerah yang memiliki kepercayan tinggi terhadap magis-mistis akan lebih percaya jika anaknya ditangani oleh dukun. Sementara itu didaerah lain ada yang memasung anak autis karena dianggap memiliki penyakit jiwa.

"Banyak dokter di daerah yang belum begitu mengerti mengenai autisme dan juga tidak adanya pusat terapi di daerah-daerah atau pusat kesahatan yang menyulitkan orangtua untuk melakukan penanganan lebih lanjut," ungkap dokter yang juga menjadi Ketua Yayasan Autisma Indoneisa.

3. Kurangnya tenaga profesional
Anak-anak yang menunjukkan gejala autisme timbul dalam waktu yang cepat, sehingga para praktisi kesehatan belum siap untuk mengimbanginya ditambah dengan pengetahuan yang masih terbatas mengenai autisme. Dr Melly mengungkapkan bahwa pengetahuan tentang autisme semakin berkembang. Hingga kini hanya ada sekitar 40 psikiater anak yang 50 persenya berada di Jakarta.

Selain itu banyaknya dokter yang belum mengerti tentang autisme serta kurangnya tenaga profesional menyebabkan seringnya salah diagnosa seperti dikira anak kurang stimulasi, mengalami gangguan bicara, ADHD atau keterbelakangan mental. Akibatnya penanganan yang diberikan menjadi tidak tepat, sehingga perbaikan gejala yang ada menjadi lebih lambat. Hal ini bisa membuat kondisi anak autis menjadi lebih berat.


Minggu, 11 November 2012

terapi bermain bagi anak tunagrahita

            Terapi
          Terapi berasal dari kata therapy atau therapeutics yang berarti menyembuhkan atau pengobatan (Prof. Drs. S. Wojowasito-W.J.S. Poerwadarminta,1991;232).Terapi secara umum berkaitan erat dengan masalah kesehatan, sehingga orang yang mengalami gangguan kesehatan mencari alternatif penyembuhan dari penyakitnya dengan melakukan terapi. Dalam kamus psikologi disebutkan bahwa terapi adalah therapy atau  theurapeutics yang merupakan cabang ilmu kedokteran ysng membahas perlakuan dengan maksud untuk mengobati atau menghindarkan penyakit; istilah terapi digunakan juga dengan pengertian yang serupa, walaupun titik berat diletakkan pada sarana-sarana praktis yang digunakan, ketimbang basis ilmiahnya. Dari pengertian tadi maka dapat dipastikan bahwa terapi dilakukan ketika orang mengalami masalah dalam tubuhnya baik yang dirasakan dari dalam maupun yang nampak dari luar atau tampilan. Pada saat ini istilah terapi semakin banyak digunakan bukan hanya dalam proses gangguan kesehatan secara fisik, tetapi juga dalam usaha “mengobati” gangguan perilaku, atau masalah psikologis. Kaitannya dengan anak Tunagrahita Ringan, terapi dibutuhkan untuk memperbaiki hal-hal yang ditimbulkan akibat dari ketunagrahitaannya, sehingga mereka mengalami ketidaksesuaian dalam beberapa aspek perkembangannya.
                                             
  1. Permainan
Ketika  kita menyebutkan kata permainan maka secara otomatis kita membicarakan juga kegiatan bermain, Permainan (Play) merupakan suatu bentuk dari kegiatan bermain yang memiliki aturan yang sudah ditetapkan dengan segala kelengkapannya, mulai dari aturan main, jumlah pemain sampai ke tahap penilaian. Sementara itu kalau kita membicarakan tentang bermain maka dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang menggembirakan tanpa terlalu memperhatikan tentang aturan, tetapi didalamnya tetap memiliki unsur yang positif bagi anak, khususnya bagi anak tunagrahita. Elizabeth B. Hurlock, (1993;320), menyatakan bahwa arti yang paling tepat dari bermain adalah setiap kegiatan yang dilakukan secara sukarela dan tidak ada paksaan atau tekanan dari luar atau kewajiban. Menurut Bettelheim kegiatan bermain adalah kegiatan yang “tidak mempunyai peraturan lain kecuali yang ditetapkan pemain sendiri dan tidak ada hasil akhir yang dimaksudkan dalam realitas luar”. Bermain terbagi ke dalam dua kategori yaitu bermain aktif dan pasif (hiburan).