Minggu, 11 November 2012

terapi bermain bagi anak tunagrahita

            Terapi
          Terapi berasal dari kata therapy atau therapeutics yang berarti menyembuhkan atau pengobatan (Prof. Drs. S. Wojowasito-W.J.S. Poerwadarminta,1991;232).Terapi secara umum berkaitan erat dengan masalah kesehatan, sehingga orang yang mengalami gangguan kesehatan mencari alternatif penyembuhan dari penyakitnya dengan melakukan terapi. Dalam kamus psikologi disebutkan bahwa terapi adalah therapy atau  theurapeutics yang merupakan cabang ilmu kedokteran ysng membahas perlakuan dengan maksud untuk mengobati atau menghindarkan penyakit; istilah terapi digunakan juga dengan pengertian yang serupa, walaupun titik berat diletakkan pada sarana-sarana praktis yang digunakan, ketimbang basis ilmiahnya. Dari pengertian tadi maka dapat dipastikan bahwa terapi dilakukan ketika orang mengalami masalah dalam tubuhnya baik yang dirasakan dari dalam maupun yang nampak dari luar atau tampilan. Pada saat ini istilah terapi semakin banyak digunakan bukan hanya dalam proses gangguan kesehatan secara fisik, tetapi juga dalam usaha “mengobati” gangguan perilaku, atau masalah psikologis. Kaitannya dengan anak Tunagrahita Ringan, terapi dibutuhkan untuk memperbaiki hal-hal yang ditimbulkan akibat dari ketunagrahitaannya, sehingga mereka mengalami ketidaksesuaian dalam beberapa aspek perkembangannya.
                                             
  1. Permainan
Ketika  kita menyebutkan kata permainan maka secara otomatis kita membicarakan juga kegiatan bermain, Permainan (Play) merupakan suatu bentuk dari kegiatan bermain yang memiliki aturan yang sudah ditetapkan dengan segala kelengkapannya, mulai dari aturan main, jumlah pemain sampai ke tahap penilaian. Sementara itu kalau kita membicarakan tentang bermain maka dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang menggembirakan tanpa terlalu memperhatikan tentang aturan, tetapi didalamnya tetap memiliki unsur yang positif bagi anak, khususnya bagi anak tunagrahita. Elizabeth B. Hurlock, (1993;320), menyatakan bahwa arti yang paling tepat dari bermain adalah setiap kegiatan yang dilakukan secara sukarela dan tidak ada paksaan atau tekanan dari luar atau kewajiban. Menurut Bettelheim kegiatan bermain adalah kegiatan yang “tidak mempunyai peraturan lain kecuali yang ditetapkan pemain sendiri dan tidak ada hasil akhir yang dimaksudkan dalam realitas luar”. Bermain terbagi ke dalam dua kategori yaitu bermain aktif dan pasif (hiburan).

     
3.   Terapi Permainan
Terapi Permainan atau dalam istilah psikologi disebut juga Play Therapy merupakan teknik psikoterapi yang didasarkan pada asumsi, bahwa keinginan-keinginan tak sadar seorang anak, konflik dan rasa ketakutannya akan sering diketahui dengan melihat aktivitas bermainnya; atau permainan yang dirancang membantu pasien, biasanya seorang anak, guna melepaskan tegangan atau mempelajari penyesuaian yang memadai kepada situasi yang mengganggunya (A. R. Henry Sitanggang, S.H. , 1994;333). Dari pengertian Terapi Permainan, maka jelas dikatakan bahwa perilaku anak akan terlihat jelas sampai sejauh mana mereka menanggapi setiap permainan yang ditawarkan kepadanya sehingga setiap ekfresi yang ditampilkan bisa dianggap sebagai reaksi atas apa yang mereka rasakan ketika terlibat dalam setiap permainan. Dengan mengamati reaksi anak maka dapat ditemukan permainan yang tepat untuk digunakan sebagai terapi.

B.       Manfaat Terapi Permainan
          Sesuai dengan tujuan sebuah terapi, tentunya Terapi Permainan pun memiliki sasaran dan diharapkan memberikan manfaat yang mengarah pada perbaikan bagi anak yang diterapi, dalam hal ini Anak Tunagrahita Ringan. Dalam permainan terjadi beberapa proses pembentukan pada anak, baik dari segi fisik dengan bergerak, kognitif dengan mengikuti setiap langkah permainan, sosial dengan mengenal teman bermain, maupun emosi anak dengan merasakan sensasi dan kegembiraan. Ini semua akan sangat bermanfaat apabila diterapkan pada anak tunagrahita yang secara fisik, sosial dan emosinya mengalami gangguan. Ada beberapa teori yang menyatakan tentang pengaruh yang  baik dari permainan dalam membantu anak mengatasi setiap tahap perkembangannya. Dr. Benyamin Spock (2004;59), memberikan pendapatnya tentang keuntungan yang diperoleh ketika anak bermain dalam kelompoknya, “mereka akan mempelajari bagaimana caranya untuk mengembangkan keahlian yang dikandung dalam tubuh mereka, kreativitas mereka dan kecerdikan mereka serta sikap sosial mereka”.
   Sementara itu Deborah K. Parker M. Ed. (2006;45) menyatakan, “melalui permainan, anak akan memahami siapa diri mereka, memahami apa yang bisa mereka lakukan dan menyadari bahwa mereka bisa mengurus kepentingan diri mereka sendiri”. Dari beberapa pendapat di atas tadi terdapat kesamaan pandangan, bahwa melalui permainan anak akan mengenal dirinya, potensi yang dimilikinya serta memacu mereka untuk lebih kreatif serta berani bersikap dalam mengikuti alur permainan yang tanpa mereka sadari telah membawanya  ke dalam satu proses yang telah dapat meningkatkan kemampuannya. Selain itu melalui permainan, anak dilatih untuk mengenal karakter orang lain, lalu memahami alur permaian serta melatih mereka untuk bersikap sportif ketika megalami kegagalan. Dengan mengenal karakater orang lain dalam hal ini teman bermainnya, sudah mengarahkan anak pada kehidupan sosial, kemudian memahami alur permainan, jelas ini membantu anak dalam proses berpikir sedangkan bersikap sportif, tentunya ini berkaitan erat dengan pengendalian emosi, melatih anak untuk mampu bersikap lapang dada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar